Si Bung dari Siantar dan Bung Kancil

Foto : Istimewa
Adam Malik
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
INGAT-ingat lupa (maklum sudah aki aki pisan) pernah ada polemik di kalangan wartawan terkait panggilan bung kepada Adam Malik yang belum lama dilantik jadi wakil presiden.
Ingat-ingat lupa pula, ada seorang wartawan yang memanggil Bung dalam tanya jawab dengan wakil presiden. Kemudian ada protes dari wartawan lain dalam konotasi panggilan Itu tidak atau kurang sopan
Tapi juga lupa-lupa ingat polemik itu dinetralisasi oleh salah satu staf wapres. Selesai. Pak wapres tidak menyoal psnggilan Itu. Malah terkesan senang senang saja.
Bahwa Wapres senang memanggil Bung kepada setiap orang, saya pernah mengalami. Waktu kami (Wartawan Priangan Timur) sempat bertemu beliau di Hotel Songgoriti kawasan wisata di Kota Batu, Malang, beliau menegur kami. "Eh Bung, bung siapa kalian, wartawan keliatannya ya?".
Beliau menginap di kamar super presidential hotel itu, sementara kami cuma di kamar super melati. Itupun berkat jasa baik Pemkot Malang.
Panggilan bung ini dipopulerkan oleh Bung Karno di masa perjuangan kemerdekaan. Maksudnya untuk menghilangkan kelas sosial dan feodalisme di kalangan sesama pejuang. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahri, Bung Tomo, dsb.
Ada dua panggilan kepada Adam Malik yang biasa digunakan kawan-kawan seperjuangan. Si Bung dari Siantar karena putra Abdul Malik Batubara itu lahir di Pematang Siantar tahun 1920. Ia dikenal pandai bicara, pawai berdiplomasi dan pemberani.
Adapun panggilan Bung kancil adalah karena tubuhnya memang kerempeng, tapi lincah bergerak kemana saja.**
