Teks Proklamasi Dikemas Dini Hari

Foto : Istimewa
Naskah preoklamasi yang telah diremas dan dibuang ke tempat sampah, ternyata bukti sejarah yang sangat berharga yang disimpan MB Diah.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BEGITU Bung Karno dan Bung Hatta sampai di Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta selepas "mengungsi" dari Rengasdengklok, keduanya tengah bersiap untuk mendatangi rumah Laksamana Maeda Oshima Atsuko di Jalan Imam Bonjol nomor 1 Jakarta Pusat
Maeda adalah kepala kantor penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia. Maeda sangat membantu perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka. Termasuk janji hadiah kemerdekaan Indonesia.
Malam itu Maeda merelakan rumahnya digunakan perumusan Proklamasi oleh Sukarno Hatta dan pejuang lainya. Ikut dalam rembukan tersebut antara lain Ahmad Soebardjo, seorang pejuang muda yang kemudian dia menjadi Menteri Luar Negeri (pertama) dalam kabinet (pertama) Sutan Sjahrir.
Ketika itu, Bung Karno tercenung sejenak setelah melihat selembar kertas dan sebuah pulpen dari Subardjo yang dalam kertas itu telah diberi narasasi kata pembuka: "Kami bangsa Indonesia".
Selanjutnya Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo. berembuk. Soekarno atau Bung Karno sendiri yang menulis tangan pada kertas tersebut, dan Sayuti Melik untuk diketik.
Sayuti Melik seorang pejuang muda sedikit mengubah beberapa redaksi kata saat mengetik naskah tersebut, di antaranya mengubah kata "tempoh" menjadi "tempo" serta "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".
Tidak pakai lama naskah proklamasi Itu selesai diketik. Lalu Sayuti Melik meremas dan merobek kertas yang telah ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta itu dan dibuang ke temoat sampah. BM Diah pejuang muda lainnya memungut remasan kertas itu dari tempat sampah, dia menyimpannya secara pribadi.
Dan ternyata kertas coretan yang sudah lusuh karena diremas Sayuti Melik dan disimpan lama oleh BM Diah, baru diserahkan pada tahun 1992 (47 tahun kemudian) kepada presiden Suharto. BM Diah sadar bahwa itu fakta sejarah yang sangat-sangat berharga.
Naskah yang lusuh tulisan tangan asli itu berbunyi:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 yang mengenai perpindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya."
Djakarta hari 17 bulan 8 tahun O5
Wakil2 Bangsa Indonesia
Kembali ke Jalan Pegangsaan sudah pagi hari. Upacara proklamasi segera dipersiapkan.
Secara mendadak muncul Latif Hendraningrat seorang perwira muda PETTA bersama dengan Soehoed Sosrokoesoemo dari barisan Pelopor.
Muncul pula Sarsatri Karma (SK) Trimurti istri dari pada Sayuti Melik yang mengerek bendera .
Persis pukul 10.00 hari Jumat (keramat) bertepatan juga dengan 17 Ramadhan (hari Nuzulul Qur'an) Bung Karno dan Bung Hatta naik panggung acara di depan rumahnya dan langsung membacakan proklamasi kemerdekaan.
Cukup banyak masyarakat yang hadir. Dalam waktu singkat informasi proklamasi Itu beredar di tengah masyarakat. Mereka berbondong-bondong ke lapangan Ikada yang diberitakan sebelumnya.
Itulah momen kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan selama puluhan bahkan ratusan tahun
Sekali merdeka tetap merdeka!.**