Prabowo Populerkan Kembali "Londo Ireng"

Ilustrasi
Ilustrasi Londo Ireng
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
PRESIDEN ke-8 Republik Indonesia Prabowo Subianto mempopulerkan kembali istilah "Londo Ireng" dan menyematkan prasangka negatif itu kepada kelompok pengkritik pemerintahannya. Dalam hal ini wartawan dan aktivis LSM.
Sebutan "Londo Ireng" sebagai identitas penduduk era kolonial yang berpihak dan berkhianat kepada kepentingan Belanda.
"Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?" kata Prabowo dalam pidatonya di Puncak Harlah ke-28 PKB, Jakarta, Kamis (23/7).
Apa itu "Londo Ireng"?
Londo ireng adalah frasa bahasa Jawa yang secara harfiah berarti "Belanda Hitam".
Status dengan prasangka negatif itu bisa ditelusuri dari tulisan seorang sejarawan asal Belanda Ineke van Kessel dalam buku berjudul " Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië"
Karya ilmiah itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831–1945 (terbit tahun 2011 oleh Penerbit Komunitas Bambu)
Tentara Afrika
Dalam konteks sejarah, sebutan "Londo Ireng" itu merujuk pada tentara Afrika (Zwarte Hollanders) yang disematkankan pada pada tentara yang direkrut oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) pada abad ke-19.
Pribumi Jawa Berkhianat
Berbeda dengan sebutan "Londo Ireng" yang disematkan pada pribumi asli Jawa yang menjadi kolaborator pada era penjajahan yang dianggap berkhianat dan menjadi antek asing yang bernada hinaan.
Untuk Menghinakan
Frasa "Londo Ireng" yang mengandung makna merendahkan, menghina, atau mencela seseorang atau kekelompokan tertentu untuk menunjukkan rasa tidak suka, pandangan negatif, atau konotasi buruk.
Dalam konteks pernyataan Presiden Prabowo "Londo Ireng" bisa ditafsirkan dengan kekerasan verbal yang dapat melukai mental atau perasaan yang secara eksplisit para jurnalis dan aktivis LSM yang pada giliran bisa memicu konflik serta permusuhan.**
