Badai Dahsyat Dibalik Mundurnya Daripada Soeharto

Foto : Istimewa
Inilah salah satu aksi kekerasan Mei 1998 di Jakarta, tak hanya demo mahasyswa juga ditandai perusakan dan penjarahan.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SEKADAR menolak lupa, saya ingin membuka catatan tentang badai politik yang melanda Indonesia khususnya Jakarta pada bulan Mei 1998. Sangat dahsyat dan mencekam.
Demontrasi mshssiswa dan seluruh elemen masyarakat nyaris tidak terkendali. Ibarat badai dan gelombang pasang tsunami di Lautan Hindia, begitu chaos dan mencekam. Kerusuhan massal yang terkenal dengan sebutan "Tragedi Mei" Itu pecah dengan ganas dan mengerikan.
Kerusuhan makin menjadi-jadi karena dipicu penembakan sejumlah mahasiswa Universitas Trisakti di Grogol Jakarta Barat tanggal 12 Mei. Maka tak ayal lagi kerusuhan kerusuhan semakin menjadi-jadi, ada perusakan dan juga penjarahan yang menyebabkan ratusan orang tewas, dan banyak juga berita tentang perampokan, pembakaran dan juga perkosaan.
Gubernur Jakarta Sutiyoso menerangkan kepada pers, sediktnya 4939 bangunan dibakar, termasuk rumah dan toko. Sebanyak 1.119 unit mobil pribadi dan ,66 unit mobil umum juga dibakar.
Puspen ABRI menyebut korban jiwa mencapai 500 orang. Penda Tanggerang menemukan 100 mayat hangus terbakar di sebuah pusat pertokoan.
Data lengkap lainnya menyusul dampak :Tragedi Kerusuhan Mei 1998" yang dibuntuti demham aksi kekerasan massal, penjarahan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang berlangsung p;uncaknya pada 13–15 Mei 1998 di Indonesia.
Puncak kekerasan tak mmang di Jakarta, namun melebar juga ke Solo, dan Medan. Peristiwa ini dipicu oleh krisis ekonomi parah, kemarahan atas praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), serta tewasnya empat mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998, yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Pemicu utamanya adalah krisis moneter: di Asia pada tahun 1997 sheingga Indonesia terdampak membuat nilai tukar rupiah jatuh drastis, harga kebutuhan pokok melonjak, dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.Tragedi Trisakt.
Dan dipicu pulai dengan penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti menyebabkan empat tewas yakni: Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie.
Saat itulah menjadi titik balik kemarahan rakyat. Kecemburuan sosial dan isu rasial sering dijadikan kambing hitam atas hancurnya ekonomi, memicu aksi kekerasan rasial yang sistematis di jalanan.
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).Akhir Era Orde Baru menemukan fakta, karena tekanan politik yang masif dari mahasiswa dan masyarakat, mundurnya sejumlah menteri, serta kekacauan keamanan di ibu kota memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
Peristiwa ini menandai berakhirnya masa Orde Baru selama 32 tahun dan membuka gerbang era Reformasi di Indonesia karena memang saat itu situasi ekonomi memburuk. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh Rp17.000/Dollar US. Inflasi mencapai 70%.
Saat itu Indinesia betul-betul mengalami krisis ekonomi yang parah. Pemerintahan nyaris kosong. Presiden Soeharto sedang berada di Kairo Mesir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi negara G 15, sementara para perwira tinggi ABRI termasuk Menteri Hankam Panglima ABRI Jendral Wiranto sedang boyongan ke Malang menghadiri sebuah acara yang tidak begitu urgen.
Penasihat presiden bidang Hankam, Letnan Jenderal (Purn). Wiranto mencoba meminta Wakil Presiden BJ Habibie membuat pernyataan untuk menenangkan masarakat.
Tetapi Wapres yang sesungguhnya menurut kontitusi sedang menjabat sebagai presiden tidak mau mendahului Presiden. Seraya memerintahkan Sintong Panjaitan untuk menghubungi presiden.
Sintong mencoba menghubungi Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid yang ikut dalam rombongan presiden. Tapi jawaban Mensekneg, katanya presiden iedang istirahat tak bisa diganggu.
Tapi untungnya presiden pulang lebih cepat dari jadwal semula. Tanggal 14 Mei sudah sampai Jakarta. Namun Situasi sudah sangat mencekam dan tak terkendali. Gedung parlemen sudah dikuasai mahasiswa. Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasi.
Tercatat saat itu ada 14 menteri mengundurkan diri. DPR di bawah kepemimpinan Harmoko malah meminta presiden mengundurkan diri untuk menyelamatkan negara dan rakyat.
Tiada jalan lain bagi Presiden Soeharto. Akhirnya tanggal 21 Mei 1998 dia menyatakan mengundurkan diri setelah berkuasa selama 31 tahun dan 71 hari.
Gilirannya, sesuai konstitusi, Wakil Presiden BJ Habibie naik jabatan menjadi presiden. Itulah momen mulainya era reformasi., yang belakangan reformasinya terasa kebablasan.**


