Menakar Minat Baca Bangsa Indonesia

Ilustrasi
Ilustrasi minat baca
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
WAKTU membaca hasil survei UNESCO (United Nation Educational Ssientivic and Culrural Organization) organisasi sayap PBB, saya sangat miris. Direktur Jenderal UNESCO Andrey Azoulay menyebut minta baca bangsa Indonesia sangat rendah.
Perempuan cantik (namanya juga perempuan) yang terpilih sebagai Dirjen untk kedua kali (2017-2021) dan 2021-2025 mengatakan, setiap tahun melakukan penelitian minat baca terhadap seluruh Anggota PBB (worlds most literate), Indonesia berada di tingkat dua dari bawah. Kata Andrey hanya 0,001%. Artinya hanya satu dari seribu orang Indonesia yang masih suka membaca. Kami percaya hasil penelitiab Unesco itu.
Ada rujukan sebagai pembanding. Tahun 2015 kami Pokja Wartawan Kemenag mengadakan "Tour de Madrasah". Sekitar 40 madrasah di Jawa Barat kami kunjungi. Misi itu dikhususkan untuk mengetahui kebiasaan membaca (reading habbit) atau minat baca (reading interest) pada siswa atau masyaraat madrasah.
Kesan kami memang demikian. Indikasinya hanya satu dua saja madrasah memiliki perpustakaan sekolah. Madrasah yang sudah memiliki perpustakaan juga tampak kosong melompong. Tak tampak ada siswa atau guru stsu pegawai yang sedang menekuni buku yang bertumpuk di perpustakaan. Padahal keberadaan perpustakaan itu mrnjadi salah satu syarat untuk mendapatkan izin operasional dari Kementerian Agama.
Syarat itu termaktub dalam pasal 13 Peraturan Menteri Agama Nomor 13 tahun 2012 tentang pendidikan agama Islam
Bagi kami kondisi itu tidak terlalu mengejutkan dan menjadi skeptis, karena jangankan di madrasah, ternyata masih banyak kantor-kantor kementerian agama kabupaten dan kota yang juga belum memiliki perpustakaan.
Bahkan perpustakaan di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat saja sempat lama menghilang
Adalah Dr. H. Cece Hidayat M.Si., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka (waktu itu), punya program yang elegan soal pengembangan minat dan kebiasaan membaca di kalangan madrasah itu.
Dia yang dalam usia 42 tahun sudah mengantongi gelar doktor itu mau menekankan peran guru. Salah satunya 10 menit saja dari setiap jam guru mengajak siswa untuk membaca secara berjamaah di kelas. Dengan demikian tak hanya siswa yang tumbuh kebiasaan membaca, tetapi juga gurunya.
Jangan diharapkan bisa lahir siswa yang cemerlang dari guru yang kedul. Saya pikir ide Cece itu ada baiknya jika diadopsi secara nasional oleh menteri Dikdas dan Menteri Agama dan menjadi program pendidikan nasional. Kebiasaan itu memang sebaiknya dipupuk sejak dini. Di kantor-kantor ada baiknya juga dikembangkan jam membaca secara berjamaah di perpustakaan
Tak ada salahnya disediakan award bagi yang terbaik dinilai dari peningkatan prestasi dan produktivitas kerja.
Insya Allah reading habbit dan reading interest bangsa kita bisa meningkat. Tidak terus menerus jadi juru kunci, malu dong sama Dirjen Unesco yang cantik itu. Selama Ini baru dua perempuan yang sempat menjabat direktur jenderal Unesco selain Andrey Azoulay satu lagi Irina Bosokaf.**