Nelayan Kita Mestinya Berjaya di Lautan

foto

Foto : Istimewa

Nelayan kecil di Pantai Selatan belum bisa melaut karena angin Barat yang panjang.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

SEMBOYAN nelayan kita di Indonesia mestinya harus identik dengan moto Angkatan Laut Republik Indonesia"Jjalesveva Jayamahe". Kalimat itu diambil dari bahasa sansekerta yang berarti justru "Di Lautan Kita Jaya". Prasa itu mulai digunakan armada laut kemaharajaan Majapahit untuk memompa semangat kebaharian.

Apa yang terjadi dengan kondisi nelayan kita hari ini?., secara umum sedang terpuruk. Musim Angin Barat yang panjang telah menjadi penghalang untuk pergi ke laut mengambil khasanah samudera luas .Padahal di lautan Hindia ini Tuhan telah menyiapkan 23 macam biota laut. Biota Itu merupakan hewan tumbuhan atau karang laut :

Plankton adalah organisme berukuran kecil yang melayang layang mengikuti arus air. Nexton adalah hewan laut yang mampu berenang melawan arus air. Dari 23 jenis biota yang disebabkan antara lain ada:
- Hiu paus (plankodon typus)
- Lumba-lumba (Drlphandae)
- Paus Biru (Balaenoptera nusumbus).
- Penyu sisik (Eretmochelys NUbuucota).
- Ikan tuna sirip biru ( Thumus maccoyii)
- dll

Permasalahan yang dihadapi oleh para nelayan termasuk di selatan Kabupaten Tasikmalaya adalah musim angin barat yang berkepanjangan yang sulit untuk diprediksi. Dalam keadaan normal, Februari biasanya sudah berakhir dan nelayan aman untuk melaut.

Dalam kondisi begitu biasanya waktu senggang diisi dengan memperbaiki jaring atau perahu bagi mereka p;ara nelayan kecil.

Tapi lain halnya untuk nelayan kaya. Biasanya mereka gunakan untuk mereka-reka investasi. Tambah modal atau beli kapal tangkap yang berukuran besar.

Bagi nelayan kecil, jika pun bisa melaut persoalan juga menyangkut ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), sebab 40 atau 50% biaya produksi diserap oleh BBM. Satu lagi masalah nelayan gurem adalah selama reses mereka malah menumpuk utang untuk biaya hidup keluarga.

Dalam kondisi begitu tak lain dan tak bukan adalah negara harus hadir di pinggir laut. Para nelayan tak cukup cuma diberi pinjaman modal. Mereka juga harus diberi ilmu bagai mana menundukkan laut. Di kementerian KKP ada pelatihan E laut, sebaiknya para nelayan yang kulitnya makin hitam diikut sertakan.

Para penyuluh laut segera diaktivasi untuk mendampingi para nelayan sejak dipinggir Laut sampai ke tengah samudera. Ada baiknya mereka berguru kepada nelayan Bugis di Makassar.
Mreka Itu keturunan pelaut yang andal sejak zaman dahulu kala.

"Nenek moyang ku orang pelaut
Gemar mrngarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Diterjang badai sudah biasa"

Itulah lagu Nenek moyangku orang pelaut ciptaan ibu Sud tahun 1940. Nelayan Indonesia harus jaya di lautan. Bukan hanya kulit yang semakin kelam. Jalas veva jaya mahe. Di laut kita jaya.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Bansos Sang Primadona
Nahdlatul Ulama Terbesar di Dunia
Megawati di Antara Intrik dan Licik Politik
Jatuh Bangun Majalah Tempo Kena Bredel Daripada Soeharto
Isu Penculikan Jenderal LB Moerdani