Senandung Bandung Tempo Dulu (Bagian 6)

  • 2 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Kelurahan Babakan Surabaya, dulunya kawasan ini berasal dari orang-orang Surabaya yang bekerja di PSM (Pindad).

Oleh HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial)

PENULIS sengaja ngobrol- ngobrol dengan warga Jl. Kebon Gedang yang sudah sepuh, ternyata sejarah nama Kebon Gedang bukan karena banyak pohon gedang (pepaya), tapi katanya karena banyak pohon pisang.

Waktu itu banyak orang jawa (Jawa Tengah) tinggal di daerah tersebut. Orang jawa menyebut pisang dengan gedang yang artinya pisang. Jadilah nama Kebon Gedang. Nama itu dipakai jadi nama jalan dan kelurahan yang termasuk Kecamatan Batununggal.

Ada lagi istilah "Jawa Koek". Istilah itu sudah ada, lama sekali. Ada sangkut pautnya dengan sejarah Pindad. Menurut "asbabul nujul" kala itu pabrik senjata mesiu tempatnya di Ngawi dan Surabaya. Sekitar tahun 1898. Belanda butuh tempat yang lebih aman. Akhirnya dipilihlah Kiaracondong, Bandung. karena tenaga ahlinya dari Surabaya semua, diboyonglah semua pekerja dari Surabaya.

Pekerja dari Surabaya migrasi ke Kiaracondong (Bandung) memakai kereta api. Tiba di stasiun Kiaracondong tengah malam. Konon kabarnya tiba di Bandung dalam keadaan gelap gulita alias "poek". Karena itulah timbulah kata jawa koek, orang jawa yang kegelapan. Mun disundakeun
orang jawa nu kapoekan. Jawa koek...jawa koek cenah. yang sebenarnya jawa poek.

Nah pekerja asal Surabaya itupun banyak yang memilih perumahan di arah utara Kiaracondong yang bebatasan dengan kawasan Cicadas, maka disanalah jadi sebuah kampung yang namanya Babakan Surabaya. Babakan dalam arti Sunda adalah temoat tinggal baru, maka sampai kini nama Babakan Surabaya menjadi sebuah Kelurahan di Kota Bandung.

Ihwal sindiran orang Sunda kala itu yang jadi anekdot "Jawa koek maling apu, datang poek teu diaku". Yang artinya orang Surabaya datang ke Bandung dalam keadaan gelap tanpa ada yang nyambut.

Orang orang dari Surabaya itulah akhirnya memilih tempat di sebelah utara Kiaracondong. Jadilah nama Babakan Surabaya. Yang artinya kampung baru orang Surabaya.

Kelurahan Babakan Surabaya sekarang menjadi daerah padat. Penghuninya sekarang beragam suku, tidak orang Surabaya lagi, tetapi segala macam suku ada. bahkan orang Surabaya dulunya kini tinggal anak cucu dan cicit dan sudah berbaur tak lagi kelihatan orang Jawanya, juga bicaranya juga sudah Nyunda.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Titik-Titik Kosmis Sebelum Baitullah
Takhayul, Percaya Atau Tidak?
Botok, Sang Pendobrak
Badai Dahsyat Dibalik Mundurnya Daripada Soeharto
Rayakan Karnaval Agustusan dengan Miras dan Obat Keras