Takhayul, Percaya Atau Tidak?

foto

Ilustrasi

Takhayul dan khurafat.

Oleh HARI SINASATRIO
(Pemerhati Psikologi)

MUNGKIN anda, saya tidak percaya takhayul. Itu sah-sah saja. Karena agama Islam tidak boleh percaya takhayul.

Makna takhayul dalam bahasa Arab. Dalam Mu’jam Musthalahat Fiqhiyyah disebutkan: “takhoyyala artinya: tergambarnya suatu hal dalam jiwa (pikiran)”.

Maka takhayul di sini sama dengan kata “berkhayal” atau “khayalan” yang kita tahu bersama. Jika demikian, takhayul dengan makna pertama ini hukumnya tergantung apa yang dikhayalkan dan apa manfaat atau mudaratnya.

Jika yang dikhayalkan adalah perkara yang mubah, maka hukumnya mubah. Jika yang dikhayalkan adalah perkara yang haram, atau mengkhayalkan yang tidak bermanfaat, atau terlalu banyak berkhayal, maka ini terlarang.

Zaman memang makin modern. Pemikiran masyarakat semakin logis. Tapi faktanya takhayul tetap hidup, dan maish banyak orang percaya meski keberadaannya kepar dihujat dan ditabukan.

Mungkin kita akan secara tegas mengatakan jangan percaya takhayul dan langsung marah kalau ada orang menuduh kita takhayul. Namun, kita kadang sok teu sadar melakukan hal hal yang berbau takhayul. Padahal dasarnya manusia sangat rentan kepada hal hal yang berbau takhayul, dan juga terkadang jadi mitos.

"Tong diuk hareupeun panto bisi nontod jodo", kata mitos yang berbau takhayul, atau istilah di Tatar Sunda itu disebut pamali, padahal secara logikanya apa hubunganya pintu dengan jodoh.

Ada lagi seseorang yang memakai baju serbaputih dan berhasil dalam mengerjakan tugas. Tetapi gagal ketika dia memakai baju warna lain. Kadang kita berpikir ternyata baju putih membawa keberuntungan. Jika kebetulan kejadian itu berulang. Bisa bisa kita terbawa bahwa ternyata baju putih membawa hoki. Sadar atau tidak sadar akan memunculkan takhayul baju putih.

Penulis yang kebetulan sedang mendalami hal-hal itu. Kadang kita memerlukan mempercayai takhayul, untuk sekadar meningkatkan keyakinan kemampuan kita dalam mencapai tujuan, meningkatkan kita kinerja kita dalam berbagai tugas, serta mengurangi kecemasan.

Percaya atau tidak takhayul yang bersifat ramalan. Bagi sebagian orang bisa menimbulkan dampak positif jiwa karena keyakinan dan memiliki kekuatan sugesti. Sugesti itu hidup dalam angan- angan seseorang dan memupuk harapan agar keinginan terwujud.

Itu adalah pandangan takhayul menurut psikologi. Kalau secara agama. Agama bisa menjelaskan sesuatu yang tak mungkin, tidak masuk akal, melalui Al Quran, sumber ilmu pengetahuan yang melampaui akal. Sementara akal manusi mempunyai keterbatasan.

Percaya tidak takhayul? Yang jelas dunia boleh maju. Logika manusia pun makin berkembang. Namun, keyakinan manusia kepada takhayul hal tidak logis, akan senantiasa hidup dan tumbuh.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Tiada Maaf Bagimu Jurnalis!
Diteror Begal Hidup di Bandung Tak Nyaman Lagi
Merdeka Ala Mang Becak
Ketika Presiden Keseleo Lidah
Badai Dahsyat Dibalik Mundurnya Daripada Soeharto