'Bad Ending' Soeharto dan Harmoko

foto

Foto: Google.com

Soeharto dan Harmoko

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

Di era Orde Baru siapa yang tak kenal Harmoko. Mantan Menteri Penerangan dan terakhir menjadi Ketua DPR.MPR RU. Sosok ini lahir di Desa Patianrowo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur pada tanggal 7 Januari 1939.

Nama aslinya Harun Movhammad Kohar yang disingkat dan dikenal dengan panmggilan Harmoko
ini memang bercita-cita menjadi wartawan. Tahun 1950 ia datang ke Jakarta untuk menjadi wartawan.

Dalam buku "Kisah Perjalanan Hidup Harmoko" terbitan Pusat Data dan Analisa Majalah Tempo, diceritakan Harmoko turun dari kereta api di Pasar Senen dengan memanggul koper seng

Di koper seng Itu dia membawa sepucuk surat dari kakaknya untuk BM Diah. Sang kakak menitipkan adiknya yang ingin jadi wartawan.

Harmoko atau Harun Mochammad Kohar Itu terus tinggal di Senen berbaur dengan para seniman Senen. Ia pun mulai menjadi wartawan beberapa koran antara lain, Merdeka dan Angkatan Bersenjata

Tahun 1965 mendirikan koran Pos Kota yang laku keras di kalangan masyarakat bawah, tukang becak, sopir angkot dan bajay. Harmoko juga dikenal sebagai sosok yang ulet dan pekerja keras. Hingga kerja kerasnya berhasil membangun koran Pos Kota yang laku keras di pasaran, bahkan karier Harmoko juga makin moncer dan ia menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Adalah Soeharto prediden kedua Republik Indonesia mengamati sepak terjang Ketua Umum PWI itu. Karenanya, 1983 Presiden Soeharto pun mengangkatnya menjadi Menteri Penerangan menggantikan Ali Murtopo yang mulai sakit-sakitan.

Soeharto puas dengan kinerjanya. Makanya Harmoko dipertahankan menjabat Menpen hampir tiga periode (selama 14 tahun). Saat itulah Harmoko semakin cakap dan dipervaya menjadi juru bicara negara.

Prasa yang selalu diucapkan dan diingat masyarakat adalah "Menurut arahan dan petunjuk bapak presiden.... dst...dst".

Sebagai menteri penerangan ia pernah mendirikan Kelompencapir( Kelompok pendengar (radio), pembaca (koran) dan pirsawan (televisi). Dengan wadah Kelompencapi ini setiap bulan Ramadhan ia melakukan Safari Ramadhan berkeliling ke seluruh Nusantara, bertemu dsn bicara dengan simpul-simpul masarakat, menyerap aspirasi mereka.

Karir politiknya memuncak ketika terpilih sebagai Ketua Umum Golkar (sebelum menjadi partai) yang dijabatnya dari tahun 1993 sampai tahun 1999. Dia orang sipil pertama yang jadi Ketum Golkar kerena sebelumnya selalu dijabat dari kalangan ABRI (sekarang TNI).

Tahun,1997 Harmoko terpilih sebagai ketua DPR/MPR RI periode 1997-1999. Semua Itu terjadi berkat dukungan daripada Soeharto. Bahkan pernah diwacanakan dan diproyeksikan menjadi wakil presiden menggantikan Tri Sutrisno. Tapi wacana Itu menghilang ketika muncul BJ Habibie yang kemudian jadi wapres. Bisa dimaklum kalau Harmoko mulai kecewa.

Ketika Soeharto didesak mundur oleh massa rakyatnya terutama kalangan mahasuswa, Harmoko pun mulai "berseberangan" dengan Soeharto. Bersama para Wakil Ketua DPR Ismail Hasan Metarem, Syarwan Hamid, Abdul Ghafur, dan Fatimah Ahmad, Harmoko cs menemui Soeharto di Cendana.

Di rumah pribadinya mereka meminta agar Soeharto mundur sebagai Presiden RI dengan arif dan bijaksanai. Hal itu semata-mata untuk persatuan dan keutuhan bangsa. Hal ini sangat bertolak belakang, Harmoko baru dua bulan sebelumnya mendesak Suharto untuk maju lagi menjadi Presiden untuk periode 1997-2022.

Kepada massa ribuan orang mahasiswa yang berdemo di gedung parlemen, Harmoko menjelaskan bahwa sikap pimpinan DPR/MPR semata-mata karena situasi politik. Bukan soal senang atau tidak senang. Tapi di pihak lain tentu saja giliran Soeharto yang kecewa. Ibarat memelihara anjing, sesudah besar malah menggigit.

Dan itulah yang terjadi persekutuan dua orang politikus Itu berakhir tidak enak. Bahkan katanya mereka tidak pernah ketemu sampai ajal memisahkan keduanya. Soeharto wafat 27 Januari 2008 sedangkan Harmoko berpulang 4 Juli 2021.

Itulah makna dari kata bahasa inggris "bad Ending", sebuah sebuah persekutuan yang berahir buruk.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Rayakan Karnaval Agustusan dengan Miras dan Obat Keras
Titik-Titik Kosmis Sebelum Baitullah
Drama Rengasdengklok, Penculikan Atau Pengamanan?
Alarm dari Mahasiswa
AI Kini Jadi Andalan Tempat Curhat, Manusia Tengah Kehilangan Kemampuan Mendengar?