Haji Politik

Foto : Istimewa
Orang-orang Nusantara tempo dulu beribadah haji, ada yang membawa misi politik.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BAHWA tujuan orang berangkat ke Baitullah adalah untuk menunaikan ibadah Rukun Islam yang kelima adalah benar adanya. Tetapi tentu semua hal ada kelainan. Ada tujuan khusus. Khususon. Al kasih kata orang Arab mah.
Ada beberapa sultan (Islam) yang memanfaatkan ibadah haji dengan nuansa politik. Salah satunya Sultan Ageng Tirtayasa. Raja Banten generasi ke 6 Itu telah mengutus putranya Abdul Kahar berangkat ke Baitullah. Selain untuk menunaikan ibadah haji juga melakukan kunjungan diplomasi (misi politik) menemui Syarif Mekkah. Tujuannya tak lain untuk mendapatkan dukungan penguasa hizaj atas hegemoni di bumi Ageng Tirtayasa.
Setelah bertemu dengan Syarif Mekkah Abdul Kahar meneruskan perjalanan ke Turki yang juga mayoritas Muslim. Pulang dari Mekkah Abdul Kahar mendapat julukan Pangeran haji.
Abad ke 17 ada utusan dua sultan ke Arab Juga menemui pemimpin kerajaan Arab. Utusan Sultan Ageng Tirtayasa adalah ulama Aria Wangsakara, Aria Jaya Santika, dan Kiyai Labe. Sementara utusan Sultan Agung Mataram dipimpin Kyai Narantaka.
Gelar untuk Sultan Banten adalah Abu Mufakfir Mahmud Abdul Qadir. Sementara untuk Sultan Agung Mataram diberi gelar Abdullah Mohammad Matarani Al Jawi. Kepada mereka juga diberikan kuluk ( mahkota) bendera pusaka dsn guci berisi air zamzam.
Itulah misi-misi haji bernuansa politik demi hegemoni kekuasaan kesultanan Islam di Kesultanan yang bernuansa islami Itu memang buruh dukungan politik dari luar terutama dari pemegang hegemoni Arab.**