Balada Sang Juru Kasir

  • 9 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Hari Sinastrio

Oleh HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial dan Politik)

DI NEGERI antah-berantah, banyak hal bisa terjadi. Yang kemarin masih duduk manis di kursi kekuasaan, hari ini bisa disuruh berdiri. Yang kemarin pegang kalkulator, hari ini pegang koper.
Heuheu... begitulah nasib.
Namanya Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan alias Juru Kasir Negara.

Tugasnya sederhana, menghitung. Ya menghitung pemasukan, menghitung pengeluaran, menghitung utang, menghitung defisit. Dan yang paling penting: menghitung apakah duit negara masih cukup sampai akhir bulan, atau defisit?.

Masalahnya, menjadi kasir alias juru bayar negara ternyata tidak sesederhana kasir warung.
Kalau di warung tetangga bilang, “Bu, bon dulu ya,”.
Kasir tinggal jawab, “Boleh. Tapi jangan lupa bayar,”.
Nah, kalau negara yang bilang, “Tambah belanja lagi, dong.”.
Kasir negara tidak bisa seenaknya menjawab,"Muhun, mangga...”.
Harus dihitung dulu. Apakah APBN cukup tidak?, defisit aman tidak?. Utang bagaimana?. Penerimaan negara masuk berapa?.

Nah, kalau terlalu sering bilang “tidak bisa”, bisa-bisa kasirnya malah dianggap bikin repot. Dan di situlah cerita Purbaya menjadi menarik.

Tanggal 14 September 2026, Purbaya diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan dan digantikan Suahasil Nazara.

Yang bikin tambah menarik, saat kabar pergantian itu muncul, Purbaya sedang mengikuti agenda rapat bersama DPD.

Sedang rapat... Eh, ternyata kursinya sudah berganti pemilik. Begitu cepat?
Ya, namanya juga kursi menteri.
Bukan kursi tunggu di puskesmas.
Tidak ada tulisan, “Mohon antre sesuai nomor.”

Purbaya kemudian mengaku kecewa dengan pencopotannya, meskipun ia mengatakan sudah memperkirakan kemungkinan itu.

Lalu mulailah orang bertanya, kenapa?. Apa sebabnya?. Apakah karena kebijakan?. Apakah karena perbedaan pandangan?. Atau ada cerita lain di balik pintu kekuasaan?

Nah...

Di sini kita jangan sok tahu. Karena kalau belum tahu, ya jangan bilang tahu. Kalau belum terbukti, jangan dijadikan vonis.

Tapi bertanya? Boleh dong. Namanya juga rakyat. Masa rakyat cuma boleh bayar pajak?
Hehehe...

Yang jelas, Menteri Keuangan memang punya posisi yang unik. Dia harus menjaga keuangan negara. Tetapi di saat yang sama, dia bekerja dalam pemerintahan yang punya banyak program dan banyak kebutuhan.

Presiden ingin program jalan.
Menteri ingin anggaran aman.
Rakyat ingin harga murah.
Pengusaha ingin ekonomi tumbuh.
Semua ingin.

Yang bingung siapa?. Ya Kasirnya. Makanya saya jadi ingat istilah Sunda, Ulah waka gagabah. Jangan buru-buru. Hitung dulu. Karena yang dihitung bukan uang pribadi. Bukan uang bapak-ibu pejabat. Tapi uang rakyat. Dan kalau salah menghitung, maka yang menerima akibatnya 'kan rakyat juga.

Jadi sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang menjadi Menteri Keuangan. Mau Purbaya, Suahasil. Atau siapa pun nanti. Yang penting satu.

Yang penting jangan sampai negara punya banyak program, tetapi kasirnya tidak boleh berkata: “Duitnya tidak cukup.”

Karena kasir yang selalu bilang:
“Siap, Pak!”
“Beres, Pak!”
“Bisa, Pak!”

itu memang menyenangkan.
Tapi kasir yang sesekali berani bilang:
“Maaf, Pak. Kalau dipaksakan, uang negara bisa jebol.”
Justru mungkin lebih berguna.

Sebab menjadi Menteri Keuangan bukan lomba mencari tepuk tangan. Bukan pula lomba siapa paling dekat dengan penguasa. Dia cuma punya satu pekerjaan berat: menjaga dompet negara.
Dan dompet itu punya siapa?
Punya kita semua.
Jadi kalau suatu hari sang juru kasir berganti lagi...
Jangan terlalu heboh.
Kita sudah hafal ceritanya.
Kasir boleh berganti.
Kursi boleh berganti.
Orang boleh berganti.
Tapi tagihan?
Heuheu... Tetap kita yang bayar.
Wallahu a'lam...**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani Si Raja Intel dan Spy Master
Ketika "The Smiling" General Marah
Dari Gus Kepada Gus
Bansos Sang Primadona
Jejak Sepatu Lars Dalam Perjalanan Sejarah Indonesia