Jutaan Jemaah Umrah Menyemut di Masjidil Haram, Soal Ibadah Thawaf dan Sa'i Ini Kata Ustaz Ude dan Amin

Yayan Sofyan
Suasana di Masjidil Haram.
Catatan YAYAN SOFYAN
(Laporan Dari Tanah Suci)
JUTAAN umat Islam dari berbagai negara, termasuk Indonesia menyemut di Kompleks Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi untuk beribadah dan mengagungkan Allah.
Di tempat suci Kompleks Masjidil Haram tersebut, selain ada Baitullah yang secara harfiah berarti "rumah Allah", juga ada bukit Shafa dan Marwa. Di kedua tempat itu, jutaan jemaah umrah thawaf atau berkeliling Kabah 7 kali di Baitullah, dilanjut ibadah sa'i. bolak balik 7 kali.
Jutaan jemaah umrah ini sangat antusias dan khidmat menjalani ibadah Thawaf dan Sa'i meski harus berdesakan dan tak lelah harus berjalan kaki sekitar 8 km.
Dari jutaan jemaah umroh yang melakukan ibadah Thawaf dan Sa'i, di antaranya 45 jamaah dari Bandung dan sekitarnya yang diberangkatkan oleh agen travel PT Madinah Iman Wisata (MIW) Bandung.
Ke-45 jemaah umroh yang diberangkatkan PT MIW dengan program “Umroh Plus Thaif dan Badar 9H” ini, didampingi setia oleh pendampingnya, Ustaz Deden S. Hidayat dan Muhamad Amin sebagai Mutowif. Kedua ustaz ini membimbing puluhan jemaah beribadah Tawaf dan Sa'i Senin (6/6/2026) malam pukul 23.00 hingga Selasa (7/6/2026) dini hari pukul 02.00 waktu Makkah.
"Sebelumnya rombongan kami menginap di Hotel Anshor Golden Tulip, Madinah selama 3 hari mengunjungi kawasan Masjid Nabawi, termasuk mengunjungi Raudlah," ujarnya.
"Mulai Senin kemarin hingga 5 hari ke depan sudah berada di Makkah menginap di "Al Shohada Hotel" untuk melakukan ibadah Thawaf di Baitullah dan Sa'i serta kunjungan ke sejumlah tempat religius," tutur Ude.
Menurut Ustaz Ude, sapaan Dedes S. Hidayat ini, memang Baitullah, secara harfiah berarti "Rumah Allah" adalah sebutan lain untuk Ka'bah, sebuah bangunan suci yang terletak di tengah kompleks Masjidil Haram di Kota Makkah.
"Bangunan ini merupakan kiblat atau arah solat bagi seluruh Muslim di dunia. Makna dan fungsi utama istilah "Rumah Allah" tidak berarti bahwa Allah tinggal di dalam bangunan tersebut, melainkan sebagai tempat yang sangat dimuliakan dan dikhususkan untuk beribadah kepada-Nya," kata Ude tak lelah terus membimbing untuk beribadah dan jemaah umroh.
Baitullah, kata Ude, bangunan ini merupakan kiblat bagi seluruh pemeluk Islam di dunia dan merupakan rukun haji maupun umroh dengan ibadah Thawaf.
Berdasarkan sejarah Islam, fondasi awal Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.
Bagian penting Kabah adalah kiswah atau kain penutup Kabah berwarna hitam dengan kaligrafi bersulam benang emas yang diganti setìap tahunnya .
Batu hitam atau Hajar Aswad yang terletak di sudut timur luar Kabah dan menjadi titik awal akhir dimulainya putaran Thawaf. Area di sisi utara Kabah yang diyakini tempat suci dan menjadi bagian dari bangunan Kabah itu sendiri. Kabah berbentuk kubus, bukan lingkaran memiliki panjang sekitar 12,86 m2 dan lebar 11,03 m2.
Ibadah Sa'i
Sementara itu, Ustaz Muhamad Amin, selaku Mutowif membenarkan kawasan Masjidil Haram tiap detik selalu berdesakan oleh umat Islam untuk melakukan ibadah Thawaf dan Sa'i, apalagi saat musim haji.
"Ibadah Thawaf dan Sa'i 'kan merupakan rukun haji dan umroh meski di rukun haji ditambah Jumrah dan wukup, di rukun Umroh tak ada,"kata Amin.
Menurut Amin, ibadah Sa'i adalah berjalan dan berlari kecil sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Ibadah ini sangat berkaitan dengan kisah perjuangan Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) yang mencari air untuk bayinya, Nabi Ismail.
Kisah ini bermula ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di padang pasir yang tandus atas perintah Allah. Setelah kehabisan bekal, Siti Hajar berlari antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air.
"Dalam kepasrahannya, Allah mengabulkan doanya dan memancarkan air dari tanah dekat kaki Nabi Ismail. Air ini dikenal sebagai Air Zamzam," ujar Amin.
Total jarak ibadah Sa'i, kata Amin, sebanyak 7 putaran adalah sekitar 2,8 hingga 3 kilometer.
Ibadah Sa'i ini pun, kata Amin, selain upaya mendekatkan dengan Allah, sekaligus meminta ampunan, juga merupakan penghormatan atau untuk mengingat Siti Hajar.
"Ya harus tahu bagaimana perjuangan Siti Hajar bagi anaknya, Nabi Ismail. Ini gambaran apa yang dilakukan Siti Hajar ternyata perempuan itu terdepan bagi semua anak," pungkas Amin.**