In Memoriam Abdillah Toha: Selamat Jalan, Sang Pelopor

Almarhum Abdillah Toha.
HARI ini, Selasa, 26 Mei 2026 -- keluarga besar Partai Amanat Nasional (PAN) tengah berkabung. Salah seorang tokoh pendirinya, Abdillah Toha (84 tahun) meninggal dunia.
Kabar duka itu dari Viva Yoga Mauladi, Waketum DPP PAN. Dikabarkan wafat dini hari tadi. "PAN merasa kehilangan seorang pendiri yang memiliki wawasan luas dan pemikir," katanya lirih. Viva yang juga Wamentrans menambahkan, "almarhum termasuk tokoh penting dalam pendirian PAN."
Abdillah Toha juga tokoh depan dalam perjalanan reformasi politik Indonesia. Utamanya dalam pendirian Partai Amanat Nasional (PAN), menyusul tumbangnya rezim presiden Soeharto tahun 1998.
Almarhum termasuk dalam kelompok 50 tokoh nasional yang mendirikan dan mendeklarasikan PAN di Istora Senayan, Jakarta, 23 Agustus 1998. Beliau bersama figur utama Amien Rais, Goenawan Mohamad, Rizal Ramli dan tokoh reformasi lainnya. Dengan kata lain, PAN lahir sebagai respon terhadap tuntutan demokratisasi -- pascaruntuhnya kekuasan orde baru.
Penulis mengenang sepenggal dari sedikit interaksi dengan almarhum. Seiring secuil pengalaman berkiprah di PAN pada spasi Gerakan Reformasi 1998. Almarhum adalah tokoh intelektual yang dikenal sebagai penulis andal.
Pemikiran bagi kelahiran PAN sebagai partai reformis-modernis tak semata simbolik. Sarat gagasan konseptual dan pelopor. Adalah PAN sebagai partai reformis, terbuka, nasionalis religius serta berbasis demokrasi modern dan pluralisme.
Latar intelektual dan profesionalnya, Abdillah Toha kerap dipandang sebagai salah seorang pemikir PAN generasi awal. Terbilang menjadi "penjaga idealisme" PAN.
Itu sebab, ia tak segan bersikap kritis terhadap partainya sendiri. Pemikirannya senantiasa mengedepankan demokrasi substantif, supremasi hukum, antikorupsi, HAM dan etika politik.
Almarhum termasuk tokoh PAN yang relatif konsisten dalam menjaga semangat reformasi 1998. Dalam sejumlah pernyataan, ia kerap mengkritik oligarki politik, pelemahan demokrasi hingga penyimpangan kekuasaan. Sikapnya itu, Abdillah Toha sering dipandang sebagai moral force di lingkungan PAN lama.
Abdillah Toha menjadi anggota DPR RI periode 2004–2009. Ia pernah menjadi Ketua Fraksi PAN dan Ketua Badan Kerja Sama Antarparlemen (BKSAP) DPR RI.
Di parlemen, almarhum dikenal aktif terhadap sederet isu penting. Antara lain hubungan internasional, pertahanan. demokrasi, dan tata kelola pemerintahan.
Ia berasal dari tradisi intelektual Islam modern. Bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), terlibat dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Yayasan Paramadina.
Karena itu, Abdillah Toha sering diposisikan sebagai representasi Islam demokratis yang mencoba mengharmonikan nilai keislaman dengan demokrasi modern.
Abdillah Toha telah tiada, berpulang ke alam baqa. Sederet pemikiran, gagasan konseptual tentang demokrasi dan pluralisme senantiasa tertanam di hati generasi anak bangsa. Selamat jalan, sang Pelopor.*
- imam Wahyudi (iW)
- jurnalis senior, anggota PWI Pusat