Operasi Senyap Membujuk Pulang Begawan Ekonomi

foto

Foto : Istimewa

Profesor Dr.Soemitro Djojohadikoesoemo.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

DAPAT dipastikan, tak banyak orang yang tahu. Namanya juga "Operasi Senyap". Pekerjaan inteligen, mata mata atau spion, masa dibilang-bilang. Tak lain dan tak bukan adalah operasi diam diam Ali Murtopo membujuk begawan ekonomi Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo untuk pulang ke Indonesia.

Untuk itu Ali Murtopo harus pergi ke Bangkok Thailand, karena pakar ekonomi pembangunan itu sedang berada di negeri gajah. Ia meninggalkan Indonesia tahun 1958 kerena ikut mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang, Sumatra Barat.

Bersama keluarga, ayahanda Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto Itu berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Lewat mata-mata juga Ali tahu bahwa waktu Itu, awal Maret 1967 sang profesor sedang berada di Bangkok.

Aloysius Sugianto tangan kanan Ali Murtopo dalam Opsus tersebut diajak serta dan menjadi saksi pertemuan itu. Ali menungundang profesor itu untuk makan siang di sebuah restoran di kota besar Bangkok.

Ini cerita Aloysius Sugiyanto: Pertama bincang-bincang dimulai dengan berbagai topik tentang keadaan di Indonesia. Lalu dalam saat-saat yang tepat Ali melontarkan pertanyaan, "Apakah Pak Mitro bersedia pulang ke tanah air?".

Tercenung sejenak lalu sembari menganggukan kepala Pak Mitro langsung menyatakan setuju. Ali tampak sumringah, misinya berhasil.

Kepada wartawan Tempo akhir April 1999 Soemitro membenarkan pertemuan dengan Ali Murtopo Itu. Sumitro juga bilang sudah lama mendengar Presiden Soeharto yang waktu itu masih menjabat sebagai pejabat presiden menginginkan dirinya pulang ke tanah air. Presiden ingin Soemitro membantu menyukseskan perundingan damai dengan Malaysia.

Semula Soemitro mencoba berkelit, sampai akhirnya sang asisten pribadi Itu menemuinya di Bangkok. Empat bulan setelah pertemuan itu dan Soeharto sudah dilantik MPR menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia definitif.

Tepat 27 Maret 1968, Ali Murtopo menugaskan Sugianto menjemput sang profesor di Bandara Halim Perdanakusuma. Menurut Sugianto selama tiga bulan ia berusaha menyembunyikan keberadaannya dari mata orang banyak.

Dua minggu pertama Soemitro diinapkan di Hotel Indonesia. Pekan ke tiga menumpang di rumah seorang teman di daerah Tebet Jakarta Selatan. Selanjuthya mengontrak rumah di kawasan Kebayoran Baru

Adalah maslahat pulang ke tanah air bagi profesor Soemitro, ketika tanggal 29 Mei 1968 ia diangkat menjadi menteri Perdagangan. Jabatan itu sudah ditawarkan ketika profesor ditemani Ali Murtopo dan Sudjono Humardani berkunjung ke Cendana. Mereka bertiga dijamu makan malam oleh presiden.

Sesudah perjamuan Itu, Ali Murtopo mengakhiri operasi senyap itu. Ini benar benar operasi rahasia keren.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Suharto Sejatinya Tentara, dari Bintara hingga Jendral Bintang Lima
Terima "Galunggung Award 2026", Ini yang Ditekankan Kabid Humas Polda Jabar
Dunia Spiritual Daripada Suharto
Perwira Ganteng Dalam Sepotong MImpi
27 Tahun Jadi Linmas, Warga Terkesan dan Berangkatkan Darno Pergi Umrah