Oknum Mengaku Wartawan Bentak Kepala SD Gegara Tak Dikasih Uang Rp100 Ribu Langganan Medianya

Foto : Istimewa
Inilah tampang AS (46) pria mengaku wartawan bentak Kepala SD di Sukabumi.
SUKABUMI, KejakimpolNews.com -– AS (46) pria mengaku wartawan yang mencoba memeras dan membentak kepala sekolah sebuah SD di Sukabumi, terus mendapat kecaman berbagai pihak. Bahkan Polsek setepat langsung turun angan, sang oknum ditangkap dan diamankan.
Kecaman di antaranya datang dari Pengurus PGRI Kab. Sukabumi yang meminta polisi usut tuntas kasus tersebut, sebab kajadian para guru dan kepala sekolah kerap didatangani oknum yang mengaku wartawan namun tujuannya hanya melakukan pemerasan.
Kasus ini bermula dari munculnya video seorang pria yang mengaku sebagai wartawan dan diduga melakukan pemerasan terhadap aparatur sipil negara (ASN) di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. dalam video tersebut, p;ria ini marah-marah dan diunggah di media sosial.
Peristiwa tersebut diduga terjadi di SDN Sukaraja 2, Kabupaten Sukabumi. Dalam video yang beredar, pria tersebut terlihat mengamuk setelah pihak sekolah tidak memenuhi permintaannya berupa uang langganan media sebesar Rp100.000.
Kepala Polsek Sukaraja Polres Sukabumi Kota Kompol Aguk Khusaeni Rabu (2/9/3036) membenarkan adanya dugaan aksi pemerasan yang dilakukan oleh seorang pria yang mengaku sebagai wartawan tersebut.
“Ya benar, ada dugaan oknum wartawan yang ngamuk-ngamuk atau marah-marahlah di salah satu sekolah dasar di wilayah Sukaraja,” kata Aguk saat melakukan wawancara dengan awak media di Polsek Sukaraja.
Menurut Aguk, pihak kepolisian telah menerima aduan terkait kejadian tersebut. Polisi kemudian bergerak dan mengamankan pria berinisial AS yang disebut dalam rekaman video viral.
Saat ini, AS masih berada di tangan kepolisian untuk menjalani pemeriksaan. Aparat masih melakukan serangkaian penyelidikan guna mendalami dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
“Ketika menerima informasi, kita langsung amankan, dan sekarang lagi dalam proses penyelidikan,” ucap Aguk.
Selain dugaan pemerasan, polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap kondisi AS. Berdasarkan hasil tes urine menggunakan alat dari BNN, AS dinyatakan positif mengandung zat psikotropika.
“Tadi sudah kita lakukan tes urine dengan menggunakan alat dari BNN dan setelah dilakukan tes urine ternyata positif,” ucap Aguk.
Meski demikian, hingga saat ini polisi belum menetapkan AS sebagai tersangka. Penyidik masih melakukan pendalaman terhadap perkara tersebut.
“Belum, terduga pelaku belum ditetapkan jadi tersangka. Untuk pasal dugaan berupa 483 KUHP dan Pasal 448 KUHP juncto Pasal 126 KUHP,” ucap Aguk.
Polsek Sukaraja masih melanjutkan proses penyelidikan untuk memastikan rangkaian kejadian serta dugaan tindak pidana yang dilakukan.
Sikap PGRI
PGRI menilai tindakan oknum pria yang mengaku wartawan tersebut bukan sekadar keributan biasa karena terjadi di lingkungan sekolah dan disaksikan langsung oleh para siswa.
Sekretaris PGRI Sukabumi, Asep Nurrahman, mengatakan, kejadian bermula ketika AS datang ke sekolah untuk menagih uang langganan koran bulanan.
Namun Kepala SD tersebut menyampaikan dana belum tersedia dan meminta AS datang kembali keesokan harinya. Namun, jawaban tersebut membuat AS emosi. Ia disebut mengamuk, memarahi kepala sekolah, dan berteriak-teriak di dalam kantor sekolah dilihat para murid dan guru lainnya.
Bahkan ketika seorang guru mencoba merekam adegan AS, pria tersebut marah-marah dan merebut HP sang guru.
Menurut keterangan, oknum tersebut menagih biaya langganan koran, namun saat disampaikan bahwa uangnya belum ada dan diminta datang besok, oknum tersebut mengamuk dan mencak-mencak memarahi kepala sekolah.
Menurut Asep, AS kini telah diamankan polisi. Ia juga menyebut AS sempat meminta agar perkara tersebut diselesaikan secara damai. Namun, para guru menolak tawaran tersebut. Asep mengatakan kasus serupa tidak boleh terus berulang di lingkungan pendidikan.
"Agus kan namanya, itu meminta damai supaya tidak dilanjut. Tapi guru-guru tidak mau seperti itu, karena memang kejadian itu sering muncul," ujarnya.**
Editor: Sonni Hadi
