Ironi Swarnadwipa

  • Ridhazia
  • Jumat, 5 Desember 2025 | 13:01 WIB
foto

Ilustrasi

Ironi Pulau Sumatra

Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)

BENCANA alam di Sumatera menyisakan duka dan luka mendalam. Sekaligus menjadi ironi yang menyakitkan.

Pasalnya kepulauan terluas keenam sedunia ini terkenal sebagai pulau emas atau Swarnadwipa.

Kata Swarnadwipa -- yang ditemukan pada Prasasti Nalanda dari tahun 820 dan Prasasti Tanjore dari tahun 1030 yang merujuk pada Kedatuan Sriwijaya telah ada sejak 671 itu -- untuk mendeskripsikan tanah Sumatra yang setiap lapisnya mengandung logam mulia.

Deposit Emas

Bayangkan saja, penelitian terbaru mengestimasi deposit emas di pulau Sumatra seluas 473.481 km² ini masih melimpah hingga sekarang.

Diperkirakan potensinya emas di Sumatra yang masih bisa dieksplorasi sekitaran 168 juta ton.

Fakta Historis

Pulau emas Sumatra sudah dikenal sebelum awal sejarah kalender Masehi dibuat. Dalam peta yang dibuat Willem Lodewijcksz kalau Sumatra sudah diidentifikasi sebagai Pulau Emas.

Klaudius Ptolemaeus, ahli geografi berkebangsaan Yunan yang membuat peta fenomenal dunia pada 150 SM menyebutnya Sumatra sebagai Chyrse Chersonesos (Semenanjung Emas).

Sebagai Pulau Emas diklarifikasi berdasarkan pengakuan Rahib Buddha Tiongkok I Tsing ketika menyambangi Kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh Masehi.

Ia menyebut pulau Sumatra sebagai "Chin-chou" artinya "negeri emas". Nama ini merujuk pada kekayaan alam, terutama emas yang dimiliki Sriwijaya.

Sejarawan O.W. Wolters dalam buku Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII (2017) sudah mengungkap kalau kepulauan Sumatra sebagai sumber emas dunia.

Pun, William Marsden yang menulis dalam buku klasik The History of Sumatra (1811). Bahwa tambamg emas ditemukan di Padang Sumatra Barat.

Denys Lombard dalam buku Kerajaan Aceh (1986) mencatat Aceh memiliki 300 tambang emas 24 karat. Propinsi paling ujung Sumatra itu seolah-olah tanah bergumpalan emas.

Pendek kata, kesejatian Sumatra bukan sebagai ladang banjir akibat deforestasi, yakni penggundulan hutan.

Juga bisa jadi karena ekplorasi hutan untuk penemuan emas yang tak kalah masif sejak era kolonialisme Belanda hingga sekarang.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Represi Politik Itu...
Gegara Banyak Pungutan Pajak, 13 Koloni Inggris Berontak Momentum Berdirinya Amerika Serikat
Dari Gus Kepada Gus
NU Tak Ubahnya Partai Politik
Bansos Sang Primadona