Merenungi Akrobat Harga BBM

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SELAMA ini banyak di antara kita masyarakat yang tidak tahu, atau menyadari adanya semacam akrobat dalam menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah .Ada yang kurang lojik, aneh sursneh kata Boys Iskandar mah
Begini:
Sebelumnya Pertamina sudah mengumumkan harga keekonomian Pertamax itu adalah Rp12.300.00, sementara Pertalite Rp16.088,00/leter.
Di sini mulai tampak keanehan. Masa Pertamax yang menggunakan Ron 92 Lebih murah dari Pertalite yang menggunakan Ron 90. Kenapa pula yang diberi subsidi Pertalite yang harga keekonomiannya lebih mahal. Padahal kalau Pertamax yang dinyatakan BBM bersubsidi tentu besaran subsidinya lebih kecil tidak sampai Rp6.088,00 sehingga tidak terlalu besar menyedot dana APBN
Sebenarnya akrobat harga BBM iru sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan Orde Baru.
Waktu pemerintah Presiden Suharto akan memulai pembangunan semesta dengan program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), IMF (International Monetery Fund) sudah mewanti-wanti agar tidak atau tidak terlalu besar memberi subsidi BBM kepada masyarakat. Jika terjadi, maka bantuan pinjaman dari negara donor yang dikoordinasi IMF tidak akan memberikan pinjaman.
Tentu saja sikap IMF itu membuat kepala Presiden Suharto pening tujuh putaran. Memang terdapat perbedaan madzhab ekonomi yang dianut. Di satu pihak IMF menganut sistem ekonomi kapitalis atau neoliberal yang disebut juga ekonomi pasar. Sistem ini mengharamkan campur tangan negara, apa lagi memberi subsidi kepada masyarakat. Sementara pemerintah Presiden Suharto sudah kadung menyatakan menganut ekonomi kerakyatan yang yang digagas Mohammad Hatta sejak tahun 1933 .
Sistem ini menyebabkan bahwa bumi dan air serta sumber daya alam dikuasai negara dan dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Sistem Ini sangat memungkinkan adanya subsidi (salah satunya subsidi BBM).
Serbasalah jadinya. Kalau memberi subsidi, IMF ngambek dan akan menyetop pinjaman. Kalau Itu terjadi dari mana anggaran untuk pembangunan?.
Sebelum botak kepala presiden Suharto, mau muncul ide ekonomi Pancasila. Ide ini datang dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim. Dia itu salah seorang dari tim ekonomi Orde Baru dan termasuk dalam "Geng Berkeley".
Ada jalan tengah yang ditawarkan Emil Salim. Jika IMF sedang melotot maka subsidi dihentikan atau setidaknya dikurangi. Cara ini menanggung risiko munculnya demonstrasi rakyat yang dipelopori mahasiswa.
Memang dapat diredam dengan menggerakkan polisi dan tentara yang membubarkan demonstran dengan menyiramkan water canon atau gas air mata. Sebuah pilihan yang merupakan jalan tengah dari pada IMF benar' menghentikan bantuan.
Emil Salim menyebut Ekonomi Pancasila Itu sebagai penjaga keseimbangan bandul jam.
Uring-urimgan dengan IMF berakhir tahun 2006 ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membayar utang kepada IMF. Pembayaran utang itu lebih cepat dari rencana Presiden Megawati Soekarnoputri yang berencana membayar utang itu tahun 2010.
Presiden Prabowo sekarang tidak lagi dibayang-bayangi mata IMF. Mas Bowo cuman degdegan takut APBN jebol Untk membayar subsidi BBM, pasalnya anggaran energi dari APBN tercatat Rp402,5 triliun meliputi BBM, gas elpiji dan listrik. Dalam APBN 2026 disiapkan Rp100 triliun untuk antisipasi kenaikan harga minyak dunia.
Akrobat apa pula yang akan dimainkan presiden ke delapan itu?. Jangan sampailah negeri ini jadi negeri akrobat, kaya tukang obat di pasar gerebeg.**