Kasus Kedung Ombo, Ada Informasi dan Komunikasi yang Tersumbat

foto

Foto : Istimewa

Waduk Kedung Ombo, kondisi terkini.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

SIAPAPUN orangnya yang pada tahun 1985 sudah dewasa, mungkin masih ingat kasus Waduk Kedung Ombo yang heboh di seluruh jagat Nusantara. Ratusan petani pemilik lahan di tiga kabupaten, Sragen, Boyolali, dan Grobogan, Provinsi Jawa Tengah menolak pindah

Mereka bergeming tak mau pindah meski air waduh sudah meluber dan peralahan tapi pasti sudah mulai menggenangi halaman dan rumah warga. Mereka tetap bertahan sekalipun di bawah tekanan dan dan ancaman aparat. Bahkan tak keder sekalipun dituduh subvesif atau antek PKI.

Mereka tidak mau meninggalkan tempat tinggal mereka karena ganti rugi saat itu dinilai sangat murah dan tidak adil dan tidak manusiawi.

Waduk atau Irigasi Kedung Ombo Itu proyek terbesar masa Orde Baru. Dibangun dengan dana pinjaman dari bank dunia, rencananya akan mengairi sawah seluas 61 sampai 63 ribu hektare sawah di lima kabupaten
- Demak
- Kudus
- Grobogan
- Pati dan
- Jepara

Tiga kabupaten, Sragen, Boyolali dan Grobogan menjadi tempat keberadaan proyek dan akan terendam waduk raksasa di Indonesia itu .Pusat waduk utamanya ada di kecamatan Ngeyer Kabupaten Grobogan.

Rencananya penduduk akan dipindah dengan sistem transmigrasi lokal ke beberapa tempat di Jawa Tengah. Selebihnya ditransmigrasi nasionalkan ke beberapa kabupaten di Sumatra. Salah satunya ke Kabupaten Merangin di Jambi

Kenapa Mereka Bertahan

Menurut penelitian yang dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Itu disebabkan selain kecilnya ganti rugi juga karena mandeknya informasi dan komunikasi atau kurangnya penyuluhan dan penerangan yang transparan.

Menurut menteri Penerangan Harmoko (tahun 1985), masarakat Itu harus diberi informasi sampai mereka mengerti. Beritahukan manfaat apa yang akan mereka terima jika proyek Itu sudah jadi. Antara lain nilai tanah akan meningkat, tranportasi lebih cepat. Mereka juga bisa ikut mengolah perikanan terapung dan objek wisata yang akan muncul di seputar waduk. Jika mereka paham tentu mereka akan menerima. Lebih dari Itu mereka juga akan berpartisipasi

Menterei Penerangan yakin, kasus Kedung Ombo lebih disebabkan kerena tersumbatnya informasi, komunikasi dan tiadanya penyuluhan.

Kondisi terkini

Waduk Kedung Ombo persisnya berada di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, sebagai titik utama. Pembangunannya dimulai 1980 dan diresmikan pada tahun 1991 oleh Presiden Soeharto. Luas area genangan s sekitar 6.576 hektare. 

Fungsi Utama

    • Irigasi: Mengairi puluhan ribu hektare lahan pertanian di lima kabupaten (Grobogan, Demak, Pati, Jepara, dan Kudus).

      • Pembangkit Listrik: Berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

      • Pengendali Banjir: Mengatur debit air untuk mencegah banjir di wilayah hilir.

      Kini waduk Kedung Ombo menjadi objek wisata yang mempunyai daya tarik:
       
      - Pemandangan alamnya menawarkan hamparan air yang luas dengan latar perbukitan yang indah.
       
      Wisata Air dan Kuliner: Pengunjung dapat menyewa perahu keliling waduk dan menikmati kuliner ikan air tawar khas pinggiran waduk.
       
      - Destinasi Sekitar: Berdekatan dengan area wisata seperti Wana Wisata Kedungombo dan Gunung Kemukus.**
      Bagikan melalui
      Berita Lainnya
      Tiada Maaf Bagimu Jurnalis!
      KDM Ojo Kesusu
      Merdeka Ala Mang Becak
      Teks Proklamasi Dikemas Dini Hari
      Kisah Mimpi Ali Al Muwafiq: Jemaah Haji Mabrur Semua