Homopili: "Tak Sejalan Nggak Apa-Apa"

Ilustrasi
Ilustrasi
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
KALAU tidak sependapat, nggak apa-apa. Pun, berbeda jalan dan pilihan. Perbedaan hanyalah variasi.
Itu kesejatian Homopili dalam politik pada era media sosial, yaitu kecenderungan individu untuk berinteraksi dan mengelompokan diri dengan orang-orang yang memiliki kesamaan identitas, keyakinan, nilai, atau pandangan politik.
Cerita Indonesia
Cerita Indonesia ini masih panjang. Ketidaksepakatan adalah hal yang manusiawi. Semua penduduk negeri ini berhak menentukan jalan hidup dan pilihan masing-masing.
Nggak harus semua orang lewat jalan yang sama. Yang paling penting setiap pilihan politik mekar dengan warnanya masing-masing.
Pameo klasik "dalam politik, tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi" intinya merangkum esensi mengapa politik sering kali dicap sebagai panggung kepentingan sesaat.
Sorot Lampu Kekuasaan
Di bawah sorot lampu kekuasaan, kesepakatan bisa lahir dalam semalam dan hancur dalam hitungan detik ketika arah angin keuntungan mulai berubah di ruang-ruang negosiasi.
Apalagi ideologi di negeri ini sering kali menjadi nomor dua. Partai-partai yang tadinya saling serang di mimbar kampanye dengan retorika tajam, tiba-tiba bisa saling berjabat tangan dan duduk untuk kompromi.
Bagi-bagi kursi jabatan, mengamankan posisi, fokus pada pencitraan instan hingga meredam gejolak publik, semua dilakukan secara sadar agar elektabilitas tetap tinggi untuk memenangkan momentum pemilu berikutnya.**