Babasan Sunda Nasibmu Kini, Regenerasi Budaya Ada Kearifan Lokal yang Tersendat

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JUMLAH warga negara Indonesia yang berasal dari suku Sunda itu banyak. Kedua terbesar sesudah suku Jawa. Menurut sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 ada 46,3 juta jiwa. Sekira 15 persen dari jumlah penduduk nasional, atau sekira 80% dari total penduduk provinsi Jawa Barat.
Mereka tersebar di Provinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta Raya. Bahkan sebagian lainnya tinggal di ujung barat Provinsi Jawa Tengah.
Di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap tinggal juga sejumlah warga suku Sunda. Mereka sehari-hari bercakap dengan bahasa Sunda. Yang membuat kita prihatin mereka nyaris tidak mengenal babasan (perumpamaan/peribahasa) yang diwariskan leluhur secara turun temurun.
Cucu saya yang SMP bahkan juga yang kini duduk di SMA plangak plongok kalau ditanya apa arti ngegel siku (menggigit sikut) atau tamiang meulit kabitis (bambu kecil melilit betis).
Babasan adalah paribasa atau perumpamaa, bisa juga disebut siloka itu adalah warisan budaya kata yang menyangkut kearifan lokal yang dicipta dan diturunkan nenek moyang urang Sunda dahulu secara turun temurun.
Babasan adalah ungkapan dalam lisan yang tidak langsung dipahami sebagai mana adanya. Misalnya gede hulu. Tentu tidak sesuai dengan harfiah atau etimologinya. Mana ada kepala manusia yang segede drum.
Itulah babasan dari makna untuk memberi perumpamaan kepada orang yang sombong, merasa diri paling pinter, paling kaya dan segalanya. Selain gede hulu, banyak lagi di antaranya peot hulu (penakut), leber wawanen (pemberani), hampang leungeun (rajin), hejo tihang (suka berpindah-pindah rumah). Babasan itulah yang nyaris tidak diketahui atau dipahami masyarakat Sunda masa kini terutama generasi mudanya.
Berapa banyak kapan dan siapa yang menurunkannya tidak diketahui secara pasti. Soalnya turunnya bertahap sesuai dengan perkembangan zaman.
Ada versi yang menyebut jumlah babasan yang tercatat ada 183. Tapi perpustakaan SMAN Astanjapura Kabupaten Cirebon mencatat ada 1.330 buah babasan telah berkembang ditambah masyarakat Sunda era sekarang.
Saya masih ingat beberapa di antaranya. Tidak semuanya. Ini hanya yang ada pada ingatan telanjang saja tanpa catatan dan disimpan dalam akun digital :
- Anak bawang: cuma ikut ikutan, bukan anggota inti.
- Anak buah: bawahan yang jadi tanggung jawabnya.
- Anak emas: anak yang paling disayang.
- Anak sampeuran: anak tiri.
- Adu regeng: saling bentak berebut argumen.
- Aya peurah: punya pengaruh kharisma.
- Atah anjang: jarang berkunjung.
- Apal cangkem:bisa mengucapkan tak tahu artinya.
- Dulur laer: saudara jauh.
- Asa kiamat: ketakutan yang luar biasa.
- Asak hampura: mudah memaafkan.
- Asak jeujeuhan: banyak pertimbangan.
- Asak hampura : mudah memaafkan.
- Asak weruh: nanyak tahu karena belajar.
- Awak sabeulah: perempuan tanpa suami atau laki laki tanpa istri.
- Awak sampayeun: mengenakan pakaian apa saja tetap serasi.
- Aya buntutna: perkara berkepanjangan.
- Ayang-ayangan: urusan terus menerus.
- Awet jaya: nampak muda terus walau usia sudah tua.
- Ipis biwir: suka gibah banyak bicara.
- Eleh deet: mengalah demi kebaikan.
- Elmu sapi: bersepakat dengan banyak orang yang belum tentu benar
- Elmu tumbila: Pribumi yang tidak baik kepada tamu.
- Encer uteuk: gampang bisa atau mudah menyerap ilmu pengetahua.
- Euweuh carekeun: Berkelakuan baik.
- Euweuh gadag: Tidak rajin atau tidak ada usaha.
- Ceuli lentaheun: Mudah menerima kabar, isu, hoaks atau mitos.
Masih banyak senenarnya kalau mau digali. Silahan buka Google telusur atau AI (artificial Intelliegence) atau Kecerdasan Buatan.
Tapi Google juga tidak menjamin akan memberi jawaban atas apa yang kita telusuri. Sepertinya Google pun tidak punya data fakta yang terjadi sebelum masuk teknologi digital tahun 2000 kesana
Kini AI sedang mengembangkan ilmu kecerdasan buatan (antara lain handphone pintar dan robot sebagai pengganti tangan manusia.
Yang pasti anak bangsa, anak muda terutama suku Sunda harus peduli, mengenal dan mengembangkan babasan, peribahasa ibarat dan siloka Sunda sebagai warisan dari nenek moyang.**
