Peran Ali Murtopo Terbentuknya ASEAN

Foto : Istimewa
Ali Murtopo dan peran sentralnya di era Presiden Suharto.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SEPANJANG era Orde Baru atau dalam masa kekuasaan Presiden Suharto, nama Ali Murtopo begitu terkenal. Dia ibarat bintang panggung yang selalu tampil, andai dalam dunia dangdut namanya bersinar seperti halnya umi Elvi (Sukaesih) atau si raja Rhoma Irama.
Berawal dari kesulitan sang Presiden Suharto mencari sosok juru bicaranya yang mampu menjelaskan berbagai langkah politik sejak menggantikan peran Bung Karno sebagai Kepala Negara/Presiden RI. termasuk menjelaskan bahwa ia menjadi Presiden RI itu adalah konstitusional, demokratis dan bukan dengan cara inkonstitusonal ilegal apalagi mengkudeta Sukarno.
Jika mengambil orang dari Departemen Luar Negeri saat iyu tidak mungkin. Nyaris semua orang di sana sudah dibina Dr Subandrio yang sangat dekat dengan PKI.
Bahkan bersama-sama dengan menteri lain yang sering tampil beda, jaket merah seperti Oey Cut Tat dan Yusuf Muda Dalam, sudah ditangkap dan dijebloskan ke tahanan. PKI sendiri sudah dibersihkan dan dibubarkan sehari setelah Suharto menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Pembentukan ASEAN
Sementara Suharto sejak digadang-gadang menjadi presiden menggantikan Bung Karno, sudah menyiapkan wacana dan sangat mendukung pembentukan Perkumpulan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dalam wadah yang bernama ASEAN singkatan dari Association of Southeast Asian Nations.
.ASEAN yang sedang dirundingkan ini tengah diperbincangan dengan perintisnya lima negara Asia Tenggara yang dirundingan terus menetrus oleh lima menteri luar negri maweakili lima negara yakni: Indonesia, Malaysia Singapura Filipina dan Thailand.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik, sedangkan Ali Murtopo ditugasi untuk belajar gabung dsn memberikan dukungan dan membantu delegasi Indonesia. Selanjutnya
soldadu kelahiran Blora 15 September 1924 itu mengajak serta beberapa perwira progresif yang dipercaya.
Di antaranya Leonardus Beni Murdani, Aloysius Sugianto dan Vience Sumlang. Yang terakhir Itu mantan tahanan politik kerena terlibat PRRI/Permesta. Setelah bebas Vience termasuk perwira progresif revolusioner dan dia diajak Ali Murtopo ke Bangkok membahas ASEAN.
Di kemiliteran saat itu, Ali Murtopo lebih senior dari Beni. Ali itu masuk tentara tahun 1945, sedangkan Leonardus Beni Murdani atau akrab dipanggil LB Murdani baru keluar pendidikan tahun 1954 dengan diberi pangkat letnan dua.
Berikutnya malam menjelang ditandatangani kesepakatan Bangkok, LB Murdani memberi tahu Vience Sumlang bahwa menteri Luar negeri Filipina belum memberi paraf atas konsep deklarasi.
Lalu setengah terkejut Vience menelpon seorang sahabat lamanya jendral Vargas. Jendral Filipina itu pernah menjadi panglima tentara Filipina. Sekaten jabatannya Sekjen Fakta Pertahanan ASEAN, SEATO (Souteast ASEAN Teritori Organisation), serta penasihat Presiden Filipina Ferdinand Marcos.
"General your muust do something," kata Vience memulai percakapan begitu telepon diangkat
Setelah ijelas duduk persoalannya pak jendral bilang wait for momen. Dan cuma dalam hitungan menit jendral Vargas sudah memberi penjelasan.
Katanya, Menlu Filipina Carlos Romulo dipastikan tidak akan hadir dalam deklarasi. Filipina akan diwakili Sekjen Deplu Varcino Carlos. Yang terjadi besoknya tanggal 8 Agustus 1967 deklarasi berdirinya ASEANn dihadiri dan ditandatangani oleh: Adam Malik (Indonesia),Tun Abdul Razak (Malaysia), Rajaratnam (Singapura), Videl Ramos (Filipina), dan Thanaat Koman (Thailand).
Menlu Adam Malik dan Presiden Sukarno tahu dukungan Suharto dan peran Ali Murtopo dalam menyukseskan pembetukan ASEAN. Giliran selanjutnya, Suharto semakin sayang kepada Ali Murtopo.
Kerenanya Ali terus berada dilingkar kekuasaan ataui ring 1 sampai wafatnya tgl 15 Mei 1984 dalam kedudukan sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung.**