Medsos Memasuki Era Fenomena "Zero Post"

Ilustrasi media sosial
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
BELAKANGAN ini ada kecenderungan publik tidak menyukai lagi platform di media sosial. Jangankan memposting, sekedar membaca saja sudah mulai ogah-ogahan.
Fenomena baru ini berbanding terbalik dengan awal-awal media sosial berkembang. Saat pertama kali datang, media sosial menjadi ruang komunal dimana hidup terasa akrab.
Media sosial saat awal ibarat "kampung virtual" yang berfokus pada silaturahmi, interaksi organik, dan percakapan santai.
Kini, ruang digital telah bergeser dari tempat pertukaran ide yang setara menjadi arena pertarungan kepentingan elite politik dan bisnis yang mengkoptasi oublik.
Fenomena Zero Post
Fenomena perubahan ini lazim dipopulerkan sebagai zero post -- yakni keengganan mengunggah konten apa pun di akun media sosial.
Publik mengasumsikan bahwa wajah media sosial telah berubah drastis menjadi panggung digital, ruang komersial, dan pusat polarisasi politik.
Istilah "zero post" yang dipopulerkan oleh jurnalis sekaligus penulis teknologi Kyle Chayka melalui artikelnya di majalah The New Yorker pada Juli 2025.
Ia berpendapat, "zero post" sebagai respons publik terhadap kejenuhan digital. Terlalu bising. Dari ruang virtual yang netral berubah menjadi mesin kontentasi politik yang sarat kampanye atau propaganda politik dan bisnis dengan karakter monetisasi.**