Merebut Papua (Irian) dari Atas Meja Hingga Moncong Senjata

Foto : Istimewa
Peta Papua Barat yang dulu Bung Karno menyebutnya IRIAN singkatan dari "Ikut Republik Indonesia Anti Netherland".
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BUNG Karno berang bukan kepalang. Soalnya Belanda mengangkangi terus kesepakatan yang dicapai dalam berbagai perundingan, termasuk terakhir dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.
KMB berlangsung lebih dari 2 bulan (dari 23 Agustus sampai 2 Nopember 1949).
Dalam KMB itu disepakati Belanda akan menyerahkan kedaulatan atas seluruh bekas tanah jajahan (Hindia Belanda) selambatnya akhir tahun 1949, kecuali Papua Barat. Soalnya pulau di ujung timur itu dipertahankan Belanda, dan RI ngotot harus segera dikmbalikan.
Bahkan Bung Karno juga tak menyebut Papua, dan memilih nama Irian. Konon Irian ini dipilih Bung Karno untuk menyebut Papua, sebab seperti dikutip dari "Al Overview" Kata IRIAN berasal dari singkatan "Ikut Republik Indonesia Anti Nederland".
Untuk merebut Irian Barat ini, pihak Indonesia pun menyanggupi membayar utang Belanda sebesar 4, 3 Milar Gulden atau setara $.1,13 Miliar. Selain itu Indonesia juga berjanji tidak akan menasionalisasi perusahaan asing terutama perusahaan Belanda dan Amerika yang ada di Indonesia.
Tapi ternyata Belanda mengangkangi kesepakatan KMB itu. Boro-boro menyerahkan Irian Barat, pembicaraan ulang setahun kemudian juga tak pernah ada. Yang pasti mereka terus bercokol di Irian Barat
Belakangan malah Belanda mau menjadikan Irian Barat itu sebuah negara merdeka tapi berada di bawah kendali Amsterdam. Alasannya sangat tidak rasional. Katanya Irian Barat itu berbeda ras dengan bangsa Indonesia secara umum.
Padahal banyak pihak menenggarai sesungguhnya Belanda terbius oleh kekayaan alam Irian Barat itu terutama bahan tambang. Kerena itu akhirnya Indonesia juga ikut mengangkangi kesepakatan KMB itu.
Mulai tahun 1950 Indonesia mulai melakukan nasionalisasi perusahaan Belanda.
Dimulai dengan mengambil alih De Javasche Bank milik Swasta Belanda yang sudah berdiri sejak tahun 1828. Belakangan De Javasche Bank dirubah jadi Bank Indonesia.
Ada lagi, KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) perusahaan pelayaran yang dijadikan Pelni. Bahkan tanggal 3 Mei 1956 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo II mengeluarkan UU tentang Pembatalan keputusan KMB secara sepihak. Termasuk membayar utang Belanda kepada sekutu terutama Amerika Serikat.
Jadi KMB yang merupakan upaya terakhir lewat jalur diplomatik dianggap gagal. Padahal sebelum sampai KMB, beberapa perundingan sudah digelar. Ada perundingan Linggarjati di Kuningan Jawa Barat (11 sampai13 Nopember 1946).
Lalu perundingan di kapal Rienville milik Amerika yang sedang sandar di Tanjung Priok. Berlansung tanggal 17 Januari 1947. Kemudian pertemuan Mr. Mohammad Room dengan Van Rooyen 17 Mei 1949.
Pada intinya kita minta supaya Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia seraya keluar dari Indonesia. Tapi semua kesepakatan selalu diingkari. Misalnya dalam perundingan Linggarjati, Belanda hanya mengakui kedaulatan atas Pulau Jawa, Madura dan Sumatra.
Belakangan mereka melakukan agresi ke beberapa kota besar di Jawa dan Sumatra. Selain itu Belanda juga mengingkari persetujuan untuk meninggalkan Indonesia tanggal 1 Januari 1949.
Upaya terahir lewat jalur diplomatik adalah melalui KMB. Namun Belanda masih tetap tidak mau melaksanakan kesepakatan, mengakui kedaulatan Indonesia seraya keluar dari Indonesia.
Bung Karno akhirnya menempuh jalan perang dengan moncong senjata. Mula-mula dalam pidato di Yogyakarta 19 Desember 1961 bung Karno mengumandangkan Tri Komando Rakyat ( Tritura) untuk membebaskan Irian Barat.
Tanggal 2 Januari 1962 dibentuk Komando Mandala berkedudukan di Makassar. Mayjen Suharto ditunjuk sebagai Panglima. Tugas Komando Mandala, mulai mempelajari, membuat rencana ,dan melakukan aksi, merebut Irian Barat dari tangan Belanda.
Ada pula operasi senyap dengan sandi STC9. Dalam operasi senyap itu tanggal 9 Januari 1962 tiga KRI (Macan Tutul, Macan Kumbang dan Harimau) berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok menuju perairan Irian Barat guna mengintip kesamaptaan Belanda di Irian.
Malang operasi senyap itu diketahui Belanda. Akibatnya KRI Macan Tutul dengan seluruh awak termasuk komandan tim operasi Komodor Yos Sudarso tenggelam dan gugur di laut Arafuru.
Namun pada akhirnya PBB turun tangan menengahi konflik Irian Barat itu. Bersdasarkan resolusi No 1752 tanggal 1 Mei 1962, PBB membentuk Untea (United Nation Temporary Authority) , atau otoritas sementara yang menjamin penyerahan Irian Barat kepada Indonesia 1 Mei 1963.
Sejak itu tamatlah sudah cengkeraman Belanda atas wilayah nusantara.
Sejak itu dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung menjadi satu dalam bingkai NKRI. Dari Meja sampai senjata ikut bicara.**