Mau Panjang Umur? Hiduplah Apa Adanya Bukan Ada Apanya

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
TAHUN 2007 sembilan tahun yang lalu saya bertemu dengan Pak Adang Tajudin Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat. Begitiu masuk ruang kerjanya dia langsung bertanya dalam bahasa Sunda.
"Kang abdi nuju beberes, saminggu deui pangsiun. Hoyong naros. naon resepnya akang mah jagjag wae katingalina. Abdi mah nembe bade 56 ge tos ririwit uduran wae," tanyanya yang memuji saya kelihatannya masih tampak segar padahal waktu itu usia lebih dari 70 tahun dan sekarang lebih dari 80 tahun.
Saya jawab dengan singkat," Apanan soal yuswa mah urusan Gusti Allah,".
"Tapi 'kan ada sababiyahna kang," ujarnya lagi.
"Kalau yang akang rasakan mah: Pertama hiduplah apa adanya, bukan ada apanya. Kedua menyiintai pekerjaan, dan yang ketiga, saakangeun mah aya gen jigana." jawab saya apa adanya dan memang begitulah yang saya rasakan.
Saya tambahan lagi komentar, "Pun bapa 103 tahun waktos pupusna. Malah pun uyut mah 130 taun. Waktu itu usia pensiun untuk jabatan struktural eselon 3 masih 56 tahun. Batas usia itu baru diubah menjadi 58 tahun, tahun 2008 menjadi 58 tahun.
Waktu itu usia saya yakni 66 dan 67 tahun. Usia saya itu ada dua versi. Versi pertama berdasarkan dokumen resmi (ijazah dan S K pengangkatan sebagai PNS tanggal lahir 9 Juli 1940). Tapi kata ema atau ibu saya, usia saya yang sebenarnya adalah kelahiran 1939. Sengaja dimudakan, Kaena kalau ditulis 1939 usia saya waktu (tahun 1950) masuk kelas 1SR usia sudah 11 tahun.
"Kaburu beger," kata Ema sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Sekarang ini usia saya antara 86 dan 87. Memakai versi manapun tetap saja saya merasa paling tua atau tertua. Pembandingnya, di banyak komunitas seperti wartawan, LSM, dan grup-grup WA FaceBook atau YouTube..
Prof Dr. Krisna Harahap, S.H;, M,H mantan Pemred Harian Mandala, lahir 1941, Pak Edi Djunaedi mantan wartawan Bandung Pos masih seumuran, beliau lahir 1940 dan baru saja wafat setahun yang lalu.
Pada hari kelahiran saya 9 Juli mendayang. biasanya Nini si Gia sukses bikin tumpeng atau cuma ngaliwet dengan lauk goreng peda. Itulah saya yang kini semakin aki-aki.**